Rabu, 15 Agustus 2012

Seperti ayam betina mengerami telur buaya


Saat ini saya memiliki masalah cukup besar yang tanpa saya sadari rupanya ini seperti bola salju yang semakin membesar dari hari ke hari. Kurang lebih mulai dari dua bulan yang lalu masalah ini berkembang.

Baiklah saya akan ceritakan awal mulanya. Kami berteman kurang lebih awal bulan November tahun 2011, belum lama memang. Beliau memiliki masalah besar dalam hidupnya yang berawal dari kekecawaan pada calon mertuanya yang tidak dapat menerima keadaannya yang bukan seorang PNS. Masalah semakin besar manakala kekecewaan tersebut ia obati dengan nafsu dunia semata. Apapun yang belau utarakan mengenai dunianya, saya cermati dengan seksama sebagai pembelajaran saja. Terkadang kami bertukar pendapat yang tak jarang menuai perdebatan diantara kami. Diriku dan dirinya memiliki jalan hidup yang berbeda jauh, Kami terpaut usia 3,5 tahun. Beliau lebih muda dibanding saya, dan saya anggap sebagai adik.

Masalah hidupnya makin memburuk, gaya hidupnya yang kurang sehat ditambah pergaulannya yang rumit dan berada diantara kawan-kawannya yang cenderung memiliki efek tidak baik, seperti pecandu, pemabuk, pejudi bahkan penjaja dan penikmat sex. Entahlah di didunia seperti apa itu, jauh dari bayangnku. Namun lagi-lagi dalam pikirku, itu memberikan informasi mengenai buruknya dunia luar, yang hanya bisa saya lihat melalui pengalaman hidupnya.

Suatu ketika ia dililit banyak tagihan yang semuanya harus didibayar dalam tempo satu bulan. Dibalik kebobrokannya, ada sisi lain dari kehidupannya yang begitu taat dan patuh kepada kedua orang tuanya, Salah satu baktinya pada orang tua adalah dengan membantu mebayar tagihan hutang yang memebaninya yakni, Bukan nominal yang kecil bagi anak seusia beliau untuk membantu kedua orang tuanya. Dalam keadaan mabuk dan kabur dari situasi terlilit banyak tagihan, kami melakukan percakapan melalui telepon, beliau menceritan betapa berat kehidupannya saat ini yang dikejar banyak penagih. Hanya ada rasa simpati kepadanyalah yang terasa kala itu, maka saya pun berseru Bangkitlah sekarang, ambil air wudhu dan sholatlah minta pertolongan pada Allah dan takala dililit hutang maka bersedahlah. Namun dengan seribu alasan beliau menolak anjuran saya. Beliau bertutur sudah 5 tahun saya tidak sholat, tapi sodakoh sering saya lakukan.

Waktupun terus berlalu, hanya suport saja yang bisa saya lakukan untuk mendorongnya agar bekerja lebih giat dan sesekali menyisipkan ayat Al Quran untuk memotivasinya dalam melunasi segala tagihan hutang. Syukur alhamdulillah dalam tempo sekitar 2 minggu segala tagihan yang mungkin 6 bulan gaji saya kala itu baru bisa melunasi semuanya. Rezeki memang Allah berikan pada siapun yang Allah kehendaki, sekalipun orang tersebut ingkar terhadapNya.

Berawal dari rasa simpati untuk memotivasi beliau semata, namun apa yang saya lakukan dirasakan lain. Baginya apa yang saya lakukan sangat berarti, beliau pun mengungkapkan rasa sayangnya terhadap saya. Bukan sayang terhadap kakak namun malah diartikan lain. Hemmmpp, saya tidak menanggapinya dengan serius. Tak lama dari itu, 2 hari kemudian tanpa disangka-sangka, beliau malah akan mengenalkan saya sebagai kekasihnya pada kakak perempuannya, serta berniat untuk mempertemukan kami, sungguh di luar dugaan!!! Mengapa semua jadi seperti ini???
Dengan berbagai alasan saya menolak, namun sebagai kompensasi saya mengajaknya makan bersama. Maka pada kesempatan itulah pertepatan dengan waktu ashar tiba, saya mengajaknya untuk ke mushola. Ya pada saat itulah untuk pertama kali setelah 5 tahun meninggalkan shalat, beliau shalat ashar. Sungguh terenyuh hati ini melihat beliau shalat lagi. Usai shalat beliau bercerita, sungguh segar berwudhu disini (dalam hatiku: semua air wudhu memang menyegarkan karena dilandasi keimanan). Beliau hanya tertawa dan berkata,
Akhirnya saya sholat lagi, walau agak ragu apakah saya masih hafal bacaan shalat. Hemmp kemajuan yang sungguh menakjubkan, melihat beliau sholat kembali.

Kami pulang kerumah masing-masing. Telepon pun berdering, beliau menceritakan apa yang baru saja dialaminya, Kakanya menegurnya,
Kerasaukan darimana kamu, tumben mencari sajadah, shalat kamu?. Beliau hanya tertawa renyah sambil bercerita pada saya bahwa kakaknya pun terheran-heran saat dia sholat lagi. Dalam hati saya ucapkan Alhamdulillah beliau sholatnya dilanjutkan.

Ramadhan pun tiba, dalam posisi yang kurang menyenangkan. Via telepon beliau bercerita bahwa beliau kabur lagi karena tak tahan dengan pekerjaannya yang telah memperlakukannya secara tidak adil. Baiklah, masalah datang lagi. Suport, suport, suport dan suportlah yang dapat saya berikan. Maka, hanya ini yang bisa saya berikan, Diantara kesulitan pasti datang kemudahan, sesungguhnya diantara kesulitan pasti ada kemudahan. Maka satu saran saya kala itu, bermunajatlah pada Allah mohon petunjuknya.

Dan akhirnya setelah sekian lama, beliaupun melaksanakan shalat tarawih di tengah salah seorang pamannya. Dan keesokan harinya beliau untuk pertama kalinya melaksanakan puasa Ramadhan yang sudah lama tak beliaun lakukan. Kembali lagi saya berucap syukur atas kemajuan ini. Maka saya sarankan kepadanya untuk pulang kembali ke rumahnya, menemui kedua orang tuanya. Malam kedua di bulan Ramadhan, melalui telepon beliau bercerita bahwa saat akan melaksankan shalat tarawih banyak orang menyalaminya dan berucap syukur atas kembalinya ia ke mesjid, karena selama kurang lebih 5 tahun lamanya ia tak pernah shalat dan menginjakan kakinya untuk sekedar shalat jumat yang wajib, namun kini shalat tarawih yang sunat beliau datang. Ditambah lagi tahun-tahun sebelumnya saat umat muslim lainnya shalat tarawih, beliau malah asik menenggak minuman haram (Astagfirullah). Perubahan positif ini cukup membahagiakan bagi saya, senang rasanya.

Ramadhan terus berlalu tanpa terasa ditambah kesibukan baru yang cukup menyita waktu bagi saya. Hampir setiap hari beliau meng-up date kegiatannya, mulai dari sahur hingga tarawih yang diisi dengan kegiatan membantu orang tua hingga menghafal ayat-ayat Al-Quran. Namun juga tak jarang beliau memiliki masalah dengan beberapa temannya yang mengejeknya karena sudah jarang bermain bersama, entah itu hanya sekedar main kartu dengan dibumbui uang taruhan hingga menenggak minuman haram bersama. Sungguh ironis dimana saat itu banyak remaja yang melakukan tilawah atau shalat tarawih namun disisi lain ada kegiatan nista demikian. Godaan demi godaan terus datang silih berganti kepadanya, mulai dari ajakan GODIN bersama, MINUM bersama hingga ajakan untuk BERMAIN UANG bersama. Namun hanya satu yang bisa saya lakukan, suport, suport, suport dan suport saja. Terkadang hanya menemaninya berbagi pengalaman via telepon yang bisa saya lakukan agar beliau tidak bergi keluar untuk melakukan kagiatan-kagiatan tadi. Karena pada dasarnya beliau tidak memiliki teman dan lingkungan sekitar rumah yang baik, sehingga kawan-kawannya pun memiliki kebiasaan tak baik pula.
Namun kini masalah besar bagi saya, mengapa???
Dibalik suport yang saya berikan, rupanya tumbih rasa cinta dihati beliau terhadap saya. Yang sebenarnya bingung untuk saya tanggapi. Entah mengapa beliau menerawang terlalu jauh mengenai ini, hingga ingin meminang saya tahun depan. (Masalah makin besar). Sungguh dalam hati saya, hanya ada rasa empati dari kakak terhadap adiknya atau hanya sebagai teman bertukar pikiran saja, tidak lebih.
Masalah besarnya adalah APA YANG HARUS SAYA LAKUKAN???
Ada ketakutan dalam diri saya, saat beliau saya tinggalkan maka akan kembali pada kebiasaan semula!!!
Tapi jika saya lanjutkan dengan mensuport beliau, takut disalah artikan.
Please help me!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar